LAOZI VS KONGHUTZU

Sungguh satu pembahasan yang mantap dan berkuasa. Praise the Lord. Saya hanya ingin menambahkan secuil, bahwa sebernarnya Laozi dan Konghutzu (Kongzi) kedua-duanya menyebutkan mengenai hal yang sama ketika mereka menyebutkan mengenai “Tao/Dao” atau Kalam / Sabda / Firman / Jalan / Ajaran / Kebenaran itu.

Laozi berkata:
Pandanglah, itu tidak dapat dilihat – itu tidak berwujud.
Dengarkanlah, itu tidak dapat didengar.
Raihlah, itu tidak dapat dipegang – itu tidak bukan benda nyata.
Ketiganya ini tidak dapat di berikan definisinya:
Sebab itu mereka bergabung menjadi satu.
Tinggallah dengan Dao yang purba itu;
Bergeraklah dengan yang sekarang.
Mengenal permulaan Dao yang purba itu (kekal)
adalah permulaan dari dari pengetahuan tentang inti dari Dao (Firman/Sabda itu)

(These three are indefinable:
Therefore they are joined in one…
Stay with the ancient Dao;
Move with the present.
Knowing the ancient
beginning is the essence of Dao.
–The Chinese Classics, Vol I (Taipei: SM Publishing, Inc., 1983), Confucian Analects, Bk. IV, Ch. 14, p. 16 )

Sesuatu telah ada dengan penuh misteri dari sediakala,
Telah ada (hidup) sebelum langit dan bumi
dalam keheningan dan kehampaan. Berdiri sendiri dan tidak pernah berubah. Selalu hadir (hadir dimana-mana) dalam gerakan yang berputar. Mungkin Dialah yang menjadi sumbernya dari segala benda, saya tidak tahu apa namaNya. Sebutkan saja Dia Dao (Tao) sebab terbatasnya kata-kata, saya menyebutkan Dia yang Mahakuasa (Mahabesar).

(Something mysteriously was already there,
Existing (living) before heaven and earth
in the silence and the void, Standing
alone and unchanging, Ever present in
constant (cyclic) motion. Perhaps He is
the source of myriads of things, I do not
know His name. Call Him Dao, For lack
of a better word, I call Him “the Almighty.”
– Gia FuFeng and Jane English, Translation
of Lao Zi, Tao Te Ching (Toronto: Vintage
Books, RandomHouse,Inc. 1989),Ch.25,p.255. )

Konghutzu banyak menyebutkan mengenai suatu Oknum misterius yang menciptakan semua dan kerajaan dan pekerjaanNya adalah kekal, dan bahwa Dia dapat mengampuni dosa kita.

Mencius, murid dari Konghutzu kemudian menuliskan:
“From Yao and Shun to Tang (first king of second dynasty, Shang) there are 500 years and more… From Tang to king Wen there are 500 years and more…From king Wen to Confucius there are 500 years and more…The king will come after 500 years, and he will be a famous man in their generation.”

Dia menubuatkan bahwa dari Yao, (raja legendaris Tiongkok) yang hidup disekitar tahun 2000-an STM, akan ada sekitar 500 tahun, sampai kepada raja Tang, yang hidup disekitar tahun 1600-an STM akan ada kurang lebih 500 tahun, dari Tang kepada Wen (yang hidup sekitar tahun 110-an STM) akan ada kurang lebih 500 tahun; dari Wen kepada Konghutzu ( hidup dari tahun 551 - 479) akan ada kurang lebih 500 ; dari Konghutzu kepada Raja itu, akan ada kurang lebih 500 tahun. (Jadi sekitar abad pertama Tarikh Masehi).
Dia juga menambahkan: “Kalau Raja itu akan datang dengan sesungguhnya, akan membutuhkan waktu 30 tahun sehingga dia menunjukkan kasihNya.”
(“If truly a King
shall appear, it will still take
thirty years for him in order to
show His love.”–Yi Ching Quan Gua)

Siapakah Raja yang dimaksudkan oleh Mencius, Orang Suci, Shen Ren, dan Dao oleh ketiga orang-orang yang dianggap nabi-nabi oleh bangsa Tionghoa itu? Bukankah itu hanya dapat di tepati oleh Yesus sesuai, Kejadian 1:1,1; Yohanes 1:1-3,14,) Yesus benar-benar yang disebutkan juga sebagai Kalam/Firman, dan Dia juga mengatakan bahwa Dialah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Yesus terlahir disekitar 500 tahun sesudah zamannya Kong Hu Tzu, dan Yesus menunggu 30 tahun kemudian sesudah lahir baru memulaikan pekerjaan pelayanNya sebagai Messias yang penuh kasih. Dialah satu-satunya yang dapat mengampuni dosa kita. Semua nabi-nabi dan penganjur agama lain tidak ada yang sempurna dan perlu diampuni dosanya.

Huruf-huruf Tiongkok kuno, Jia Gu Wen menunjukkan bahwa orang-orang Tionghoa purbakala, menyembah Shangdi, Tian dan Shen, yang tidak lain adalah Allah Pencipta semesta alam, El Shaddai, dan Raja Langit yang Mahakuasa, Mahabijaksana, Mahakuasa dan Mahakasih.

Saya pernah bertemu dengan professor bahasa Mandarin dan 3 dokter yang berpaham komunis di Zhuhai dan Macau, dan mereka harus mengakui, bahwa Tao (Firman/Sabda/Jalan/Kebenaran/Kehidupan) itu tidaklah mungkin hanya merupakan suatu “ajaran” atau “jalan” atau pun “alam”, tapi Dia pasti haruslah Allah yang menciptakan langit dan bumi dan sekalian isinya.

180-an dari 242 kata-kata dasar Mandarin (Zibu) menunjukkan kisah yang sama dengan apa yang terdapat dalam Kejadian 1 s/d 11.

Tuhan Yesus memberkati.

Hormat saya dan doa serta kasih dalam Yesus Kristus.

Sammy Lee (Li Wei Long)
Phone: 61-415682170
Sydney, Australia

Perlukah Warta Jemaat Direvisi…???

GKJW Simomulyo Dengan kondisi seperti sekarang ini informasi adalah sebuah hal yang paling diutamakan. Namun, bagaimana mungkin kita akan mengerti jika informasi tidak tersampaikan dengan jelas karena terbatasnya halaman atau tata cara penulisannya yang terkesan memaksa untuk dapat termuat dalam satu lembar kertas. Padahal, kalau informasi itu benar-benar diwartakan akan memakan lebih dari satu halaman.

Pasti sangat disayangkan kalau hal itu benar-benar terjadi di greja yang punya gedung besar. Mengapa demikian….????

Gedung gereja yang besar sudah tentu melambangkan bahwa warga jemaatnya banyak. Itu mengapa gedung gereja dibangun sangat besar mungkin dengan asumsi agar bisa menampung semua warga jemaatnya saat beribadah. Dan bukan hanya itu saja, gereja yang besar sudah tentu syarat akan kegiatannya yang padat.

Nah…., jika kegiatan gereja itu padat maka sangat mungkin sekali warga ingin tahu tentang segala kegiatan yang terjadi di gereja itu. Tapi, kalau informasi kegiatan itu tidak tersampaikan dengan sangat baik apa jadinya….??

APAKAH PERLU WARTA JEMAAT KITA DIREVISI….???

Berikan komentar anda tentang masalah ini, klik saja comment

Tuhan Memberkati, Amin.

Hari Raya Unduh-Unduh

Hore………..,

Hari ini GKJW Simomulyo lagi ngada`in hari raya Unduh-unduh lho….

Tepatnya pada tanggal 22 Juni 2008, lebih tepatnya lagi di hari minggu ke-3 pada bulan Juni.

Wow…., kali ini suasananya memang agak sedikit berbeda dari yang baiasanya. Buktinya, greja dihiasi dengan berbagai macam sayur-mayur trus ada juga patung Pak tani dan Bu taninya yang ikut menghiasi ruangan greja. Tema sekarang ini memang sengaja kita buat agak sedikit berbeda dari yang biasanya ya… kalau boleh di bilang tema sekarang ini agak sedikit menyinggung sejarah Hari Raya Unduh-Unduh, sahut Bapak Bagiyo Paringadi salah satu Panitia Penyelengara yang juga menjabat jadi Bendahara Greja sekaligus Ketua PPG (Panitia Pembangunan Greja).

Hasil Persembahan Unduh-Unduh ini akan diserahkan kepada PPG yang rencananya akan digunakan untuk membuat sebuah tameng yang dibangun persis didepan pintu gedung greja sekalian akan diukir sebuah prasasti yang berlambang GKJW.

Trus…., kalau mau tau sejarah Hari Raya Unduh-Unduh tuh dimana ya…., memangnya ada yang tau…???? Kalau dari para pembaca ada yang tau tolong tulis di komentar donk…., supaya kita semua jadi tahu…!!!!

Klik saja comment jika anda benar-benar tahu.

Kitab Suci; Perkataan Manusia, Mitos atau Firman Tuhan ?

Jika Kitab Suci bukan Firman Tuhan, lalu perkataan siapakah yang terdapat didalamnya? Kita hanya dapat membuat dua perkiraan, yang satu Kitab Suci adalah perkataan manusia dan yang lain Kitab Suci adalah perkataan setan.

Apakah Kitab Suci merupakan firman Tuhan? Kita perlu mempertimbangkan beberapa faktor di bawah ini untuk menjawab pertanyaan tersebut.

1. Kitab Suci ditulis oleh para pengarang dari berbagai masa. Namun demikian tema dan isi utamanya mengandung pemikiran yang sama.

Kitab Suci ditulis oleh kurang lebih 40 pengarang yang berbeda, masing-masing memiliki latar belakang yang sangat berbeda. Diantaranya terdapat raja-raja seperti Daud dan Salomo; orang biasa seperti Petrus seorang nelayan, atau Amos seorang penggembala. Ada juga ahli militer seperti Joshua dan seorang dokter seperti Lukas. Mereka semua berasal dari waktu dan generasi yang berbeda, sehingga tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk bekerja sama dalam menulis Kitab Suci. Meskipun demikian, semua hal yang telah mereka tulis menunjukkan arah dan tema yang sama, yaitu rencana keselamatan dari Tuhan bagi manusia yang berdosa melalui kasih Kristus. Tema yang telah melampaui sejarah ini menggambarkan kehendak Allah yang abadi dan merupakan faktor pemersatu yang ditemukan dalam Kitab Suci.

Bila anda membuat perbandingan antara Kitab Suci dan sistem teoritis lain yang dibuat manusia, maka anda akan menemukan bahwa tak satu pun sistem teoritis buatan manusia dapat mempertahankan tema aslinya setelah berpindah tangan melalui 40 pengarang dengan rentang waktu 1600 tahun.

Dari kesatuan Kitab Suci, maka kita dapat diyakinkan bahwa Kitab Suci ditulis oleh Tuhan yang menciptakan dunia, Tuhan yang melampui sejarah, yang telah menggerakkan orang-orang sepanjang sejarah untuk menulis Firman-Nya bagi umat manusia.

2. Kitab Suci atau Kitab tabu……???

Apakah Kitab Suci benar-benar suci? Jika demikian, mengapa dalam Kitab suci terdapat cerita inses tentang Yahuda yang tidur dengan menantu perempuannya? Inikah Kitab Suci ataukah ini kitab tabu? Bayangkan saja ada dua cermin dihadapan Anda, yang satu kotor dan yang satu bersih. Semakin kotor cermin dihadapan Anda, semakin kurang jelas bayangan yang dipantulkan. Sebaliknya, semakin jernih cerminnya, semakin jelas pula bayangan yang dipantulkan. Demikian pula Kitab Suci seperti cermin. Melalui Kitab Suci Allah ingin kita melihat betapa merosotnya umat manusia setelah jatuh dalam dosa dan itulah sifat dosa yang sebenarnya.

Tuhan memerintahkan Musa menuliskan 10 Perintah Allah, salah satunya berbunyi “Jangan membunuh!” Musa pernah membunuh satu orang sebelumnya. Sehingga merupakan hal yang manusiawi jika Musa mungkin ingin menutupi perbuatannya agar reputasinya tidak tercemar. Namun inilah Firman Tuhan, Tuhan ingin Musa menulisnya. Sehingga tidak ada kesempatan bagi Musa untuk bernegosiasi. Daud adalah orang yang dekat dengan Tuhan, namun ia juga membunuh seseorang sehingga Daud dapat mengambil istri orang tersebut menjadi selirnya. Kejadian ini ditulis dengan jelas dan tepat. Hal ini terjadi sebab Allah yang Kudus ingin menyatakan kemerosotan manusia melalui Firman-Nya.

3. Apakah ramalan dalam Kitab Suci terpenuhi?

Sebelum kelahiran Yesus Kristus, Kitab Suci telah memenubuatkan bahwa Dia akan lahir di Bethlehem. Tidak hanya itu, Kitab Suci juga menubuatkan bahwa dalam kematian-Nya, Ia akan dikuburkan dalam sebuah gua milik orang kaya, bahwa Ia akan disalibkan pada kayu salip, bahwa tangan dan kaki-Nya akan dipaku. Yang lebih menakjubkan, Kitab Suci juga menubuatkan bahwa tak satu pun tulang-Nya yang patah. Dua penjahat yang ikut disalibkan bersama-Nya, kakinya dipatahkan, namun Yesus tidak mengalaminya.

Tidak hanya itu, Kitab Suci juga menubuatkan kejadian-kejadian yang berubah di dunia ini. Misalnya pelabuhan Mediteranian kuno seperti Tirus dan Sidon telah dinubuatkan akan menjadi dua desa kecil yang lemah dimana para nelayan akan menebarkan jalanya. Meskipun Babilonia memiliki benteng kota yang kuat, namun demikian kota ini dinubuatkan akan tertutup pasir dan burung-burung akan bersarang di kota yang telah ditinggalkan tersebut. Semua nubuatan ini tampaknya tidak mungkin, namun semuanya ini benar-benar terjadi. Masih banyak lagi contoh-contoh nubuatan tentang dunia yang dapat ditemukan dalam Kitab Suci.

Yesus pun menubuatkan dalam Kitab Suci bahwa sebelum kedatangan-Nya yang kedua kali, akan ada kelaparan dan gempa bumi. Sejak abad 14, banyak gempa bumi yang terjadi. Abad 19, gempa bumi yang terjadi lebih banyak apabila dibandingkan dengan gabungan gempa bumi yang terjadi pada abad 17 dan 18. Pada 60 tahun pertama dalam abad 20 jumlah total gempa bumi yang terjadi melampaui jumlah gempa yang terjadi pada abad 19,18, dan 17. Hal ini membuat kita percaya bahwa Yesus akan segera datang.

4. Apakah Kitab Suci buku paling sempurna di dunia?

Kitab Suci bukanlah buku yang dibuat dari potongan-potongan kejadian dalam sejarah, atau satu koleksi artikel-artikel yang dipilih secara acak. Dilihat dari perspektif struktur sejarahnya dan kelengkapan isinya, Kitab Suci memang buku yang paling sempurna di dunia. Kitab Suci memiliki struktur yang paling baik diantara buku-buku yang ada, selain itu isinya telah memberikan sumbangan besar terhadap hidup dan iman manusia.

Banyak orang yang percaya bahwa Yesus hanyalah seorang petani biasa yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi. Namun jika kita menganalisa dengan lebih teliti seperti kotbah di gunung, Doa Bapa kami, kita akan menemukan bahwa dari awal sampai akhir, struktur keseluruhan Kitab Suci sangat sempurna sehingga anda tidak dapat menemukan kesalahan didalamnya.

Sepanjang sejarah manusia, ada banyak orang yang memiliki talenta kepekaan yang kuat dalam struktur, seperti Johan Sebastian Bach. Jika anda mencoba melihat karyanya yang berjudul ‘Johannes Passion’, ‘Matthaus Passion’, ‘B Minor Mass’ atau ‘Bradenburg Concertos’, dan menganalisanya dengan komputer, anda akan dapat melihat betapa harmonisnya karya-karya tersebut dan tak satu pun not di dalamnya yang salah tempat. Hal ini disebabkan Allah memberikan otak yang sangat khusus kepada Bach. Saat Bach mebuat komposisi karya-karyanya, pikirannnya sangat cermat sehingga tak satu pun not yang dapat dipindah dengan mudah. Bach memiliki satu proses berpikir yang hampir sempurna, dan dia benar-benar seorang musikus kreatif yang jenius. Jika pada abad 20 ini kita menikmati musiknya, maka kita hanya dapat berpikir bahwa orang sehebat dia pernah ada dalam sejarah kita.

Namun demikian, Bach hanyalah seorang individu, satu kesatuan yang lengkap. Bandingkanlah dengan Kitab Suci yang ditulis oleh 40 pengarang. Bagaimana bisa 40 pengarang ini tidak memiliki perbedaan pendapat tentang apa yang mereka tulis dari awal hingga akhir? Musa menulis 10 Firman Tuhan di padang gurun, Lukas menulis ‘Kitab Lukas’ di jaman kerajaan Roma, dan Raja Daud menulis Mazmur di jaman Israel kuno. Dengan latar belakang sejarah dan proses berpikir yang berbeda, mereka menulis buku yang paling sempurna di dunia tentang iman, penyembahan, dan moral. Tak ada buku yang dapat diperbandingkan dengan Kitab Suci.

5. Apakah Kitab Suci ketinggalan jaman bagi orang-orang modern?

Meskipun Kitap Suci memiliki keterbatasan sejarah, namun aspek yang luarbiasa dari Kitab Suci adalah kualitasnya telah teruji melalui waktu. Inilah sebabnya Allah dapat membawa anda dalam sukacita yang kekal saat anda membaca Kitab Suci. Dalam filsafat Cina dikatakan status tertinggi dari manusia adalah kesatuan antara manusia dan surga. Status inilah yang ingin dicapai Confusius, tetapi ia tidak dapat mencapainya. Dengan bimbingan Roh Kudus, anda dapat bersekutu dengan Bapa di surga melalui Kitab Suci.

Kualitas Kitab Suci yang abadi meyakinkan kita bahwa tidak masalah bagaimana kita memperoleh kemajuan, Kitab Suci tak akan pernah lekang dimakan waktu. Kata-kata Mao Tze Tong dulu dipuja-puja, tetapi sekarang sudah menjadi masa lalu. Bahkan jika kita sendiri telah tertinggal jauh oleh kemajuan teknologi, Kitab Suci tidak pernah menjadi barang antik. Kitab Suci adalah buku yang selalu baru.

6. Best-seller dunia.

Kitab Suci merupakan firman Tuhan karena Kitab Suci memiliki kualitas yang tak dapat dipenuhi oleh buku-buku lain. Itulah sebabnya mengapa Kitab Suci dikatakan universal. Kitab Suci adalah Kitab pertama yang bersifat universal. Hal ini disebabkan karena Kitab Suci berisi pesan bagi seluruh umat manusia. Tuhan mengasihi umat manusia di seluruh dunia. Setelah Yesus bangkit dari mati, Ia memerintahkan murid-murid-Nya “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16 ;15) Ketika Yesus lahir, Malaikat berkata, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Lukas 2 ;10). Apakah ada buku lain di dunia ini yang terjual sebanyak Kitab Suci, atau memiliki pembaca sebanyak Kitab Suci? Reader’s Digest, majalah yang paling laris di dunia, telah diterjemahkan ke dalam 17 bahasa dan memiliki lebih dari 28 juta pembaca yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Namun demikian, bila dibandingkan dengan Reader’s Digest, Kitab Suci diterjemahkan ke dalam lebih dari seribu bahasa dan merupakan buku yang paling laris dengan jumlah pembaca yang paling besar.

7. Apakah Kitab Suci merupakan buku terbaik bagi sumber inspirasi etika dan budaya?

Kitab Suci merupakan buku yang dapat memberikan inspirasi terbesar bagi pemikiran etika dan budaya. Tak ada buku lain yang dapat menstimulasi kebudayaan manusia sedemikian rupa sebaik Kitab Suci. Kitab Suci tidak hanya memberi inspirasi bagi para penulis, tetapi juga menjadi sumber utama bagi etika dan dasar hukum di berbagai negara. Dalam ruang konferensi dari gedung Konggres, di Washington D.C., tersimpan patung-patung untuk memperingati para ahli di masa lalu. Sebelah kanan atas mimbar tempat Presiden dan Juru Bicara kepresidenan berpidato, anda akan menemukan tanda mengenai kesukaan terhadap Musa. Mengapa Musa begitu penting? Ini karena hukum Musa menjadi dasar hukum utama di dunia. Hukum Musa adalah dasar bagi etika. Tak ada buku yang dapat mempengaruhi kebudayaan dan kebijaksanaan manusia seperti Kitab Suci. Jika anda mencoba meneliti bagaimana Kitab Suci mempengaruhi para musikus-musikus dunia, mungkin anda tak akan pernah mampu menyelesaikan penelitian anda walau pun anda telah menghabiskan seluruh hidup anda untuk melakukan hal ini. Seniman-seniman besar jaman Renaisans seperti Michelangello, Correggio, Leonardo da Vinci, Raphael dan Andrea Palladio, semuanya mendapat inspirasi dari Kitab Suci. Banyak orang dalam bidang-bidang lain termasuk dalam bidang sastra, arsitektur, lukis, musik dan filsafat mendapat onspirasi dari Kitab suci. Benarlah bila Kitab Suci merupakan sumber inspirasi yang tak pernah habis.

Jika anda membuka Kitab Suci dan membacanya, anda akan merasakan bahwa apa yang tertulis dalam Kitab Suci tersebut tidak masuk akal; ini bukan mitos. Isi Kitab Suci di luar pemahaman manusia dan melampaui budaya-budaya yang ada di dunia ini. Kitab Suci ditulis oleh tangan manusia, seperti halnya pidato presiden yang ditulis oleh sekretarisnya. Jika anda membacanya dengan penuh kerendahan hati, anda akan tahu bahwa Kitab Suci bukanlah buku biasa. Kitab Suci adalah Firman Allah, yang menyatakan pada seluruh manusia tentang Kasih Kristus dan harapan bagi semua umat manusia.

(Artikel ini merupakan satu kutipan kompilasi yang diambil dari beberapa pidato Rev. Dr. Stephen Tong di Taipei.)

Alkitab Di Bumi Indonesia

Orang-orang Kristen yang mula-mula menginjak bumi Indonesia, sudah mempunyai Alkitab. namun Alkitab itu tak dapat dipahami oleh penduduk yang mereka temui di sini. Bahkan orang Portugis, yang tiba di Nusantara sebelum orang Belanda, pada waktu itu belum memiliki Alkitab yang lengkap dalam bahasa mereka sendiri. Kitab Perjanjian Baru pun dalam bahasa Portugis belum ada. Anehnya, hal itu baru dikerjakan di sini.

Jodo Ferreira D`Almeida masih seorang anak ketika ia meninggalkan tanah airnya, negri Portugis. Pada umur 14 tahun, sambil tinggal di Malaka, ia mengaku percaya kepada Tuhan Yesus. Dua tahun kemudian, pada tahun 1644, ia pun mulai menterjemahkan Kitab Perjanjian Baru.

Pada tahun 1651 D’Almeida pindah ke Jakarta. Di kota itu, sama seperti di Malaka sebelumnya, ia melayani kerohanian anak buah kapal-kapal yang sedang berlabuh, dan juga menginjili budak-budak yang berbahasa Portugis. D’Almedia pun meneruskan pekerjaannya sebagai penterjemah Firman Tuhan. Perjanjian Baru dalam bahasa Portugis hasil karyanya sudah selesai pada tahun 1654. Sang penterjemah pada waktu itu baru berumur 26 tahun. Dari tahun 1656 sampai dengan tahun 1663, D”Almeida menjadi pendeta di Sri Langka dan di India. Lalu ia kembali ke Jakarta, dan selama sisa hidupnya menggembalakan sidang jemaat yang berbahasa Portugis di situ. Terjemahannya berkali-kali dikoreksi, dan akhirnya jadi dicetak di Belanda pada tahun 1681.

Menjelaskan ajalnya dalam tahun 1691, D’Almeida masih rajin menterjemahkan Perjanjian Lama. Ia baru sampai kepada Yehezkiel 48:21 pada saat ia tutup usia. Orang-orang lain menyempurnakan terjemahannya, yang baru dicetak setengah abad kemudian. Sampai sekarang Alkitab D’Almeida (dengan banyak revisi) masih tetap dipakai oleh umat Kristen di negeri Portugis dan negeri Brasilia.

Firman Allah Dalam Bahasa Melayu

Akan tetapi di bumi Indonesia tiga abad yang lalu, bahasa Portugis makin lama makin kurang dipakai. Yang sudah menjadi bahasa perdagangan di seluruh kepulauan, dan juga di semenanjung benua Asia yang menonjol dekat pulau Sumatera, adalah bahasa Melayu.

Sepanjang sejarah terjemahan Firman Allah ke dalam bahasa Melayu, nama-nama yang dijunjung tinggi adalah nama-nama orang Belanda, orang Inggris, dan orang Jerman. Tentu saja tiap penterjemah itu banyak ditolong oleh orang-orang setempat, dari Tanah Melayu atau dari bumi Indonesia; sayang sekali, nama-nama penolong itu sebagian besar tidak disebut-sebut. Namun kita dapat mengucap syukur, karena pasti ada di antara mereka yang percaya akan isi Kitab Suci yang telah turut mereka kerjakan, dan oleh karena itu nama-nama mereka “tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba” (Wahyu 21:27).

Albert Cornelisz Ruyl berlayar dari Belanda pada tahun 1600. Sebagai seorang pedagang pembantu, ia banyak berkesempatan belajar bahasa Melayu. Segagai seorang Kristen, ia memakai pengetahuannya itu untuk mulai menterjemahkan Firman Allah.

Pada tahun 1612 Ruyl sudah mengerjakan Kitab Injil Matius. Hasil karyanya itu baru diterbitkan 17 tahun kemudian. Menurut catatan Lembaga Alkitab Inggris dan Luar Negeri, “Edisi ini mungkin sekali menandakan pertama kali dalam sejarah bahwa sebuah kitab dari Alkitab diterjemahkan dan dicetak dalam sebuah bahasa yang bukan bahasa Eropa, khusus sebagai alat pengabaran Injil.”

Ruyl juga menterjemahkan Kitab Injil Markus, yang dicetak di Belanda pada tahun 1638. Lalu pada tahun 1651 terbitlah keempat Kitab Injil dan Kisah Para Rasul. Di samping hasil karya Ruyl, sisanya dikerjakan dan kesemuanya direvisi oleh Jan van Hasel, seorang pengurus Kumpeni, dan Justus Heurnius, seorang pendeta di Jakarta. Versi kuno ini dicetak dalam bahasa Melayu di kolom sebelah kanan, dan bahasa Belanda di kolom sebelah kiri. Dan Kumpenilah yang membiayai semuanya.

Doa Bapa Kami (dari Matius 6:9-13) dalam terjemahan A.C.Ruyl (1612, 1629, 1651) berbunyi sebagai berikut:

“Bappa kita, jang berdudok kadalam surga :
bermumin menjadi akan namma-mu.
Radjat-mu mendatang
kahendak-mu menjadi
di atas bumi seperti di dalam surga.
Berila kita makannanku sedekala hari.
Makka ber-ampunla pada-kita doosa kita,
seperti kita ber-ampun akan siapa ber-sala kapada kita.
D’jang-an hentar kita kapada setana seitan,
tetapi muhoon-la kita dari pada iblis.”

Kawan-kawan sekerja Ruyl, yaitu Van Hasel dan Heurnius, juga menerbitkan Kitab Mazmur dalam bahasa Melayu pada tahun 1652. Dan sepuluh tahun setelah itu, muncullah sebuah nama baru dalam sejarah terjemahan Alkitab: Ds. Daniel Brouwerius.

  • Brouwerious adalah seorang Pendeta, dulu di Belanda, kemudian di Indonesia. Rupanya ia mula-mula berpendapat bahwa tugas terjemahan sebaiknya dimulai dengan Kitab pertama: Pada tahun 1662 terbitlah Kitab Kejadian hasil karyanya. Lalu ia mengalihkan perhatiannya kepada tulisan-tulisan yang lebih langsung memberikan Injil Kristus.

Nama Albert Cornelisz Ruyl harus dihormati, oleh karena dialah yang mula-mula menterjemahkan sebuah kitab dari Firman Allah ke dalam bahasa Melayu. Dan nama Daniel Brouwerius harus dihormati, oleh karena dialah yang mula-mula menterjemahkan seluruh Kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Melayu. Hasil karyanya itu dicetak di Amsterdam pada tahun 1668

Namun demikian, harus juga diakui bahwa terjemahan Brouwerius itu banyak kelemahannya. Rupanya ia kurang mendengar dan kurang menguasai bahasa yang dipakai di pasar. Ia pun gemar memasukkan kata-kata dari bahasa Portugis: crus untuk “salib,” sanctus untuk “kudus,” spiritus untuk “roh,” Deos untuk “Allah.” Umumnya pembaca masa kini akan menemukan bahwa terjemahan Ruyl, walaupun menurut tahun asalnya lebih kuno, namun lebih mudah ditangkap artinya daripada terjemahan Brouwerius.

DOA BAPA KAMI dalam terjemahan D. Brouwerius berbunyi sebagai berikut:

“Bappa cami, jang adda de Surga,
Namma-mou jaddi bersacti.
Radjat-mou datang.
Candati-mou jaddi
bagitou de boumi bagimanna de surga.
Roti cami derri sa hari hari bri hari ini pada cami.
Lagi ampon doosa cami,
bagaimanna cami ampon capada orang jang salla pada cami.
Lagi jangan antarken cami de dalam tsjobahan,
hanja lepasken cami derri jang djahat.”

Mungkin kita tidak merasa heran bahwa terjemahan-terjemahan tadi tak lama dapat memuaskan umat Kristen di bumi Indonesia. menjelang akhir abad ke17, sudah ada suara-suara yang menuntut agar ada usaha baru untuk menyalin Firman Allah ke dalam kata-kata yang tidak merupakan teka-teki untuk pembaca bahasa Melayu. Usaha baru itu dibebankan kepadasalah seorang yang paling terkenal dalam sejarah terjemahan Alkitab: Dr. Melchior Leydekker. Leydekker dilahirkan di Amsterdam pada tahun 1645. Ia dididik dengan seksama, baik di bidang kedokteran maupun di bidang theologia. Pada tahun 1675 ia pindah ke bumi Indonesia, di mana ia menjadi seorang pendeta tentara di Jawa Timur. Dari tahun 1678 sampai wafatnya, ia tinggal di Jakarta, sebagai gembala sidang jemaat yang berbahasa Melayu.

Pada tahun 1691 majelis gereja di Jakarta minta supaya Dr. Leydekker mengerjakan sebuah terjemahan baru dari seluruh Alkitab. ia menerima tugas yang berat itu, dan segera mulai bekerja. Dengan tekun dan teliti ia menyelidiki bahasa-bahasa asli, serta mencari istilah-istilah bahasa Melayu yang paling tepat.

Sembilan puluh persen lebih dari karyanya itu sudah selesai pada tanggal 16 Maret 1701, yaitu pada saat ia dipanggil Tuhan. Mungkin tidaklah kebetulan bahwa ayat penghabisan yang sempat dialihbahasakan oleh Melchior Leydekker adalah Efesus 6:6, yang menganjurkan agar hamba Kristus sebaiknya jangan hanya bekerja di hadapan umum “untuk menyenangkan hati orang,” melainkan juga “dengan segenap hati melakukan kehendak Allah.”

Ds. Pieter van der Vorm, seorang pendeta lainnya di Jakarta, ditugasi untuk menyempurnakan hasil karya almarhum Dr. Leydekker. Dalam bulan Oktober dari tahun yang sama, selesailah Alkitab lengkap yang pertama-tama dalam bahasa Melayu. Akan tetapi Firman Allah dalam bahasa manusia itu kemudian disimpan selama 22 tahun di dalam sebuah lemari milik majelis gereja di Jakarta. Mengapa ada perbuatan yang begitu aneh?

Terjemahan yang Manakah?

Biang keladinya adalah seorang pendeta Belanda lain lagi, yaitu Ds. Francois Valentyn. Pada umur 20 tahun ia telah mulai melayani di daerah Maluku. Menurut kesaksiannya sendiri, ia sudah sanggup berkhotbah dalam bahasa Melayu setelah hanya tiga bulan belajar. selama masa kerjanya dibumi Indonesia (1685-1695, 1705-1713), Velentyn memang banyak mengharapkan bahasa dan budaya setempat, serta mengarang buku-buku kesarjanaan berdasarkan penyelidikannya itu. Tetapi apakah hal itu menolong menyebarluaskan Firman Tuhan di Nusantara? Mari kita lihat.

Valentyn melawan penerbit Alkitab Leydekker, karena (katanya) terjemahan itu memakai “bahasa Melayu Tinggi,” bukan “bahasa Melayu Rendah” yang sungguh dapat dipahami oleh khalayak ramai. Sebagai penggantinya, Valentyn menawarkan terjemahannya sendiri, yang (katanya) mencerminkan bahasa sehari-hari yang dipakai di Melayu.

Banyak orang, baik di sini maupun di Belanda, yang terbujuk oleh Valentyn. Tetapi ada juga banyak orang yang mai memperjuangkan hasil karya Leydekker. Sebagai akibat, kedua-duanya tidak mendapat cukup banyak sokongan untuk jadi diterbitkan. Dan siapa yang kalah dalam pertandingan itu? Umat manusia, karena Firman Allah tidak sampai-sampai ke dalam tangan mereka.

Akhirnya tuntutan Valentyn ditolak, terutama oleh karena dua hal:

Yang ia namakan “bahasa Melayu Rendah” sebenarnya merupakan “bahasa Melayu Maluku,” yang sulit dibaca oleh orang dari daerah lain.

Yang ia namakan “terjemahannya sendiri,” sebenarnya merupakan hasil karya orang lain.

Ds. Simon di Larges telah meninggal di Banda pada tahun 1677. (Waktu itu Francois Valentyn masih seorang bocah Belanda yang baru berumur sebelas tahun.) Jandanya menyerahkan suatu naskah peninggalan almarhum suaminya, kepada Ds. Jacobus du Bois. Du Bois kebetulan sedang menginap di rumah Francois Valentyn di Ambon, menjelang ajalnya dalam tahun 1687. Naskah tebal itu diwariskannya kepada tuan rumahnya. Dan itulah terjemahan yang (menurut Valentyn) telah dikerjakannya sendiri!.

Setelah persoalan Valentyn diatasi (”terjemahannya” itu tak pernah jadi dicetak, dan bahkan naskahnya hilang tak berbekas), masih ada pendapat bahwa terjemahan Leydekker perlu direvisi. Pada tahun 1723 sebuah panitia khusus diangkat untuk tugas itu. Anggota-anggotanya adalah Ds. Pieter van der Vorm (yang 22 tahun sebelumnya telah menyambung pekerjaan Leydekker), George Henric Werndly dari Makasar, Engelbertus Cornelius Ninaber dari Ambon, dan Arnoldus Brants dari Jakarta. Mereka pun dibantu oleh sarjana-sarjana bahasa Melayu (yang, menurut kebiasaaan zaman penjajahan, tidak disebut nama-namanya).

Terjemahan Leydekker diteliti kembali menurut bahasa-bahasa asli Alkitab. Versi itu pun dibandingkan dengan Kitab Suci dalam bahasa-bahasa Arab, Siriak, Latin, Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, dan Spanyol. Pada bulan September 1729, selesailah peredaksian itu.

Terjemahan baru dari Alkitab lengkap itu dua kali ditulis dengan tangan: sekali dalam huruf latin, sekali dalam huruf Arab. Kedua naskah itu dikirim ke Belanda dalam dua kapal yang berbeda: Jangan sampai kedua-duanya hilang di dasar laut! Salah seorang redakturnya, G.H. Werndly, juga berlayar ke Belanda. Dengan pertolongan Ds. C. G Seruys dari Ambon dan dua pendeta pembantu bangsa Indonesia, ia mengawasi proyek penerbitan yang mahabesar itu.

Perjanjian Baru keluar pada tahun 1731. Seluruh Alkitab menyusul dua tahun kemudian. Barulah terbit pada tahun 1758 edisi yang berhuruf Arab, dalam bentuk lima jilid yang tebal. Edisi huruf Arab itu dicetak di Jakarta, karena dianggap terlalu mahal di Belanda.

Jadi, pada tahun 1733 muncullah Firman Allah yang lengkap dalam bahasa Melayu. Terjemahan Leydekker itu diterima dengan gembira. Lama sekali versi itu lebih disukai daripada yang lain-lain, bahkan mengungguli yang lebih baru dan lebih mudah dibaca. Masih dalam abad ke20 ini ada cetakan ulang dari Alkitab Leydekker, atas desakan jemaat-jemaat di Ambon. Bahkan hingga kini belum ada satu terjemahan Alkitab yang lebih banyak mempengaruhi pikiran dan perbendaharaan kata umat Kristen Indonesia daripada Alkitab karya Melchior Leydekker.

Tidaklah mengherankan bahwa versi Leydekker itu dianggap sebagai suatu pusaka rohani yang tak ternilai harganya. Dalam tahun 1950an, ketika almarhum Presiden Sukarno mengadakana kunjungan resmu ke Ambon, kepala negara itu dihormati dengan persembahan sebuah Alkitab Leydekker dari cetakan pertama, sebagai ciri khas suku Maluku. Dan Lembaga Alkitab Indonesia pernah menolak tawaran empat juta rupiah dari seorang direktur musium yang mau membeli Alkitab Leydekker cetakan 1801 milik LAI itu.

DOA BAPA KAMI dalam terjemahan M. Leydekker (1701, 1731, 1733) berbunyi sebagai berikut:

“Bapa kamij jang ada disawrga,
namamu depersutjilah kiranya.
Karadjaanmu datanglah.
Kahendakhmu djadilah,
seperti didalam sawrga, demikijenlah diatas bumi.
Rawtij kamij saharij berilah akan kamij pada harij ini.
Dan amponilah pada kamij segala salah kamij,
seperti lagi kamij ini mengamponij
pada awrang jang bersalah kapada kamij.
Dan djanganlah membawa kamij kapada pertjawbaan,
hanja lepaskanlah kamij deri pada jang djahat.”

Buku Kristen Kuno Bahasa Madura Perlu Perhatian Khusus

Upaya menerjemahkan Alkitab dan bacaan rohani lainnya ke dalam bahasa daerah setempat bisa berfungsi ganda: mewartakan kabar baik dengan bahasa yang mudah dipahami sekaligus untuk untuk melestarikan bahasa dari suku tersebut. sayangnya, kerja keras yang telah lama dirintis ini masih kurang mendapat perhatian pemakainya. salah satunya Alkitab dan buku-buku rohani berbahasa Madura.

Jember, Bahana

Ada sesuatu yang khas di lingkungan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), jemaat Sumberpakem di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebagian besar jemaatnya dari suku Madura. Gereja ini pun masih menyimpan buku-buku Kristen lama berbahasa Madura. Ada yang tertulis dengan aksara Jawa dan sebagian besar dengan huruf Latin. Sayangnya, buku-buku langka itu kurang terawat. Madura yang kita kenal dengan logatnya yang khas ternyata mendapat perhatian yang cukup besar dari para misionaris. Sejumlah buku kuno seperti Ketab Injil Sotceh see Toles Yohanes, Kejungan Pojian Rohani, dan Tjareta Saratos Empadam telah ditulis Pendeta H. Van der Spiegel tahun 1929. Buku-buku langka yang kurang terpelihara ini tersimpan di lemari gereja. Sebagian lagi disimpan warga desa di kaki Gunung Raung, 30 km timur laut Jember.

Sejak 2003, Pendeta Sapto Wardoyo melayani jemaat Sumberpakem, ia pun sulit membaca buku-buku kuno ini. “Saya sendiri sulit membaca dan memahami buku-buku langka itu,” ujar Pak Lestari (55), seorang warga Sumberpakem. Orang Madura pertama yang memeluk agama Kristen adalah Pak Bing. Ia dibaptis di Bondowoso pada 23 Juli 1882. Tanggal ini kemudian dijadikan tonggak awal berdirinya jemaat Sumberpakem, meskipun peresmian sebagai gereja jemaat baru pada tahun 1900.

Baru Dua Pendeta

Saat ini jumlah warga jemaat suku Madura ada 62 keluarga (254 jiwa) yang berdomisili di Sumberpakem, Paleran, dan Slateng. Jemaat menggunakan Alketab (bahasa Madura) terbitan LAI dan Kejungan Pojian Rohani, terbitan GKJW-VEM Jerman.

Sampai sekarang baru ada dua warga Madura yang menjadi pendeta, yaitu Pak Alpejus Kaeden (almarhum) dan Eliezer Kaeden (emeritus). Sinode GKJW sudah menyiapkan beasiswa bagi anak Sumberpakem yang ingin berkuliah di Fakultas Teologi, UKDW, Yogyakarta.

Di Pulau Madura, GKJW juga memiliki satu jemaat, yaitu jemaat Bangkalan. Hanya saja warganya adalah para pendatang berbagai suku, selain suku Madura. Kebaktian diselenggarakan menggunakan bahasa Indonesia.

Sepuluh Tahun

Proses penerjemahan Alkitab ke bahasa Madura berlangsung dari tahun 1982-1992. Uniknya, penerjemahnya bukan teolog, tapi anggota gereja biasa. Adalah Ny. Cicilia Jeanne d’Arc Hasaniah Waluyo, putri budawayan Madura, almarhum Abdurachman Sastrosubroto yang menerjemahkan Alkitab ini. Waktu itu, Hasaniah berprofesi sebagai guru musik, bahasa Inggris dan agama Katolik di SMP Pamekasan.

Ibu tiga anak ini ditugasi LAI Jakarta pada tahun 1981 untuk menerjemahkannya. Modalnya, selain iman yang kuat juga menguasai bahasa Madura halus. Di kalangan suku Madura, bahasa Madura Sumenep termasuk bahasa tingkat tinggi dan menjadi standar bagi kalangan pelajar. Salah satu kendala proses penerjemahan adalah tempat tinggal penerjemah, peneliti, dan konsultan yang berjauhan.

Setelah diuji coba selama dua tahun barulah Alkitab dalam bahasa Madura diterbitkan oleh LAI dengan nama Alketab dengan tambahan keterangan E Dhalem Basa Madura atau dalam bahasa Madura sehari-hari. Parjanjian Kona (Perjanjian Lama) setebal 1.306 halaman dan Parjanjian Anyar (Perjanjian Baru) 512 halaman. Terjemahan itu diterima dan diakui oleh Konferensi Waligereja Indonesia di lingkungan Gereja Katolik.

Alketab diluncurkan secara resmi oleh Sekretaris Umum LAI, Drs. Soepardan, pada 28 Agustus 1994. Alketab pertama kali dibaca oleh Pdt. Emeritus Alpeyus Kaeden, putera Madura pertama yang menjadi pendeta GKJW.

Sayang bila kerja keras tersebut menjadi sia-sia padahal dengan bahasa setempat bisa menjadi alat komunikasi yang efektif untuk pewartaan Injil. Pelestarian bahasanya juga memiliki arti penting bagi identitas masyarakat. Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli? Bukankah bahasa adalah identitas sebuah bangsa?

(Tjiptowardono/Ugie)